Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

SAYA MEMAAFKANMU

SAYA MEMAAFKANMU

www.hashtagtheplanet.com



A : "Saya memaafkanmu!"

B : "Sunggu? Oh, kamu orang yang baik. Terima kasih banyak. Dan sekali lagi maafkan aku."

Keesokan harinya,

B : "Kita kerja kelompok bareng yuk, pasti bakalan asik."

A : "Saya tidak bisa. Saya masih takut kamu akan melakukan kesalahan itu lagi.

B : "Itu tandanya kamu belum memaafkan aku."

A : "Nggak kok, saya sudah memaafkan kamu, hanya saja......."


Saya pernah seperti si A (tentu saja dengan perkara yang berbeda), karena si B telah meminta maaf dengan tulus, saya pun akhirnya memilih untuk memaafkan. Masalahpun selesai.

Saya sudah memaafkannya. Tapi.......... kok masih ada rasa sakit yang mengganjal di hati? Mengapa perbuatan buruknya masih bertahta dalam ingatan?

Waktu terus berlalu. Saya pun akhirnya melupakan si B. Yah begitulah fikirku.

Namun, saat sedang merapikan kamar, saya menemukan diary lama, dan dalam diary itu ternyata saya pernah menuliskan sebuah quote dalam bahasa inggris yang tak saya cantumkan sumbernya. Setelah membaca quote itu, wah....ternyata saya telah menyimpan harta karun dan melupakannya. 

"To forgive is to forget."

Memaafkan berarti melupakan, melupakan sakit hati yang pernah ditorehkan orang lain, seperti Nabi Yusuf a.s memaafkan saudara-saudaranya yang telah membuangnya ke dalam sumur. Memaafkan berarti melupakan, melupakan keinginan untuk membalas / menghukum walaupun sanggup. Memaafkan berarti melupakan, melupakan segala hal berkenaan perbuatan buruk orang tersebut dan tidak lagi menyinggungnya.

Ah....berat sekali yah ternyata "memaafkan" itu. Pantas saja orang pemaaf itu mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari Sang Maha Kuasa.

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [At Taghabun : 14]

https://id.pinterest.com/pin/449093394067052059/


Memaafkan itu memang berat. Tapi saya ingin melakukannya. Yah, tentu saja melakukannya dengan benar. Kini SAYA MEMAAFKANMU 😊

5 HAL PENYEBAB KERETAKAN RUMAH TANGGA

5 HAL PENYEBAB KERETAKAN RUMAH TANGGA

https://id.pinterest.com/pin/559994534913422781/


Awalnya saya ragu ingin mengangkat judul ini, sebab saya tahu pasti bahwa saya masih dalam proses panjang untuk menjadi istri sekaligus ibu yang ideal bagi suami dan anak, ditambah usia pernikahan yang baru seumur jagung. Namun, itu bukahlah alasan bijak untuk tidak berbagi secuil ilmu yang saya ketahui, ya kan? 😊

Maraknya kasus perceraian di Indonesia menyadarkan saya bahwa kita begitu mudah mengambil keputusan untuk berpisah. Rasa cinta yang melandasi awal pernikahan musnah begitu saja saat topan ujian datang melanda. Apakah karena dari awalnya pondasi pernikahan yang dibangun hanya terbuat dari kesenangan dunia? Ataukan terjadi salah kaprah, menganggap bahwa isi pernikahan itu hanya kebahagiaan?

Menurut saya, pernikahan adalah penyatuan 2 jiwa, dimana proses penyatuan itu tidak segampang menyatukan kopi dan susu (oh, saya jadi haus 😂). Proses penyatuan itu diawali dengan meniadakan diri, alias menghilangkan ke-aku-an, alias mengikis ego pribadi yang dilakukan oleh suami maupun istri. Berat gak? Tentu saja berat gaesss..... makanya pernikahan itu menyempurnakan separuh agama.

Suami dan istri memiliki peran sentral dalam langgengnya sebuah pernikahan. Masing-masing pihak, suami maupun istri, harus saling bertanggung jawab satu sama lain. Oleh sebab itu, keduanya harus saling memiliki ketegaran dan kesabaran yang penuh dalam menghadapi kerasnya kehidupan dunia. Namun sangat disesalkan, banyak yang kalah dan tak sanggup bertahan lantaran sebab yang sepele sehingga mengancam keharmonisan keluarganya.

Menurut saya, ada 5 hal penting yang menyebabkan keretakan rumah tangga, yaitu:
  1. Kurangnya ilmu

Kita seringkali mendapati seorang suami yang memperlakukan istrinya seperti pelayan dan menjadikan dirinya majikan yang wajib dilayani 24 jam. Sang suami entah lupa, pura-pura lupa, atau memang miskin ilmu bahwa istrinya berdasarkan syariat Islam dan undang-undang, tidak wajib menunaikan pekerjaan-pekerjaan domestik (masak, mencuci, dan sejenisnya). Dalam islam, pekerjaan-pekerjaan tersebut merupakan ladang amal dan jalan pengkhidmatan baik untuk istri ataupun suami. Tak hanya suami, kadang kita juga sering menjumpai istri yang memperlakukan suaminya tak lebih dari seorang yang hina dina. Dimatanya, suami hanya sebuah pion yang harus bergerak atas izinnya. Istri yang menghinakan suaminya tentu telah melakukan dosa besar.

Contoh-contoh diatas merupakan salah satu bukti bahwa begitu minimnya ilmu agama tentang hak dan kewajiban suami istri.

      2. Tidak adanya saling pengertian

 

https://detiklife.com/obrolan-percakapan-lucu-suami-istri/


Tidak adanya sikap saling mengerti akan menyebabkan timbulnya pelbagai kesulitan yang menjurus pada pertengkaran. Adapun penyebab tidak adanya saling pengertian bersumber dari pola hidup sebelum menikah (adanya perbedaan selera dan gaya hidup). Kegagalan mengenali kepribadian pasangan walau telah hidup bersama adalah hal yang sangat disesalkan. Andaikan suami maupun istri meniadakah egonya dan saling memahami, persoalan dapat diatasi dengan mudah.


      3. Minimnya kesabaran

Seringkali seseorang sampai hilang kesabarannya dan naik pitam saat menghadapi pertanyaan istri/ suami yang sebenarnya sangat receh. Namun entah mengapa sang suami/istri langsung marah dan berteriak. Hal seperti ini membuktikan bahwa sang suami/istri minim kesabaran (tak dapat mengontrol diri)


      4. Cara pandang yang berbeda

https://www.kompasiana.com/pakcah/551f5b2081331176019df75f/9-manfaat-konflik-suami-isteri


Jika suami dan istri memiliki cara pandang yang berbeda terhadap pernikahan, tentu saja pernikahan tersebut tidak akan berjalan lancar. Penyatuan dua jiwa mustahil terlaksana, dan apa yang menjadi tujuan dari pernikahan akan gagal. Suami adalah nakhoda, maka kapal haruslah berlayar sesuai dengan arahan dari nahkoda. Apabila istri atau dalam perumpamaan ini ia adalah penumpang, maka ia wajib taat. Jika penumpang memiliki tujuan yang berbeda dari sang nahkoda, kapal tersebut bisa karam sebelum sampai tujuan.


     5. Faktor-faktor dari luar
https://www.wajibbaca.com/2017/04/jangan-ucapkan-3-hal-ini-pada-pasangan.html

 

Sebuah pertangkaran dalam keluarga seringkali dipicu oleh sejumlah faktor yang datang dari luar, misalnya, seorang suami yang bekerja di suatu tempat kemudian bertengkar dengan atasan atau rekan kerjanya lantas pulang ke rumah dan melampiaskan kemarahan dan sakit hatinya pada istrinya. Contoh lain, seorang istri yang mudah terhasut oleh tetangganya untuk membeli barang-barang yang tak sesuai dengan kesanggupan ekonomi keluarganya lantas berkeluh kesah pada suaminya yang baru saja pulang kerja.

Seseorang pernah berkata (saya lupa sumbernya 😁), "Sungguh tidak masuk akal apabila seorang suami atau istri lantaran diterjang problema diluar rumah, bersikap mementingkan dirinya sendiri, ketika pulang kerumah, dirinya berusaha menghilangkan kekesalannya dengan cara menumpahkan amarahnya kepada orang orang yang tidak bersalah."


Semoga tulisan ini bermanfaat 😊